Skip to content

Dibalik Nikmatnya Es Sakoteng dan Siomay Mang Dede

January 19, 2010

Gerai Es Sakoteng dan Siomay Mang Dede di Indomaret Kemang Pratama

Bagi anda yang pernah tinggal, atau menjadi mahasiswa di Bandung dan senang keluyuran mencari makanan khas, tentunya akan ingat dengan Es Sakoteng dan Siomay Oyen di jalan Sukajadi. Es Sakoteng dan Siomay ini pernah diliput oleh Bondan Winarno yang terkenal dengan perkataan mak…nyus-nya.

Bagi yang tinggal di Bekasi tidak perlu jauh-jauh datang ke Bandung untuk menikmati Es Sakoteng dan Siomay Oyen. Salah satu gerainya ada di Ruko Kemang Pratama, depan Indomaret yang bersebrangan dengan Sekolah Al Azhar dan Marsudirini.

Namanya tidak lagi Oyen tapi sudah diganti dengan Es Sakoteng dan Siomay Mang Dede. Tapi soal rasa tidak kalah dengan Es Sakoteng dan Siomay Oyen. Mang Dede adalah salah satu keturunan yang mewarisi keahlian Mang Oyen dalam mengolah masakan yang sangat terkenal di saentero Bandung. Harganya pun dijamin tidak akan menguras isi kantong, hanya dengan Rp. 15 ribu kita sudah dapat menikmati lezatnya es sakoteng dan siomay khas Bandung.

Es Sekoteng Mang Dede berisi kelapa muda, alpukat, sekoteng (semacam butiran dari aci berwarna merah menyolok), kolang-kaling, gula, susu kental manis, dan es serut. Tampilannya sangat menggoda lidah untuk segera melahapnya, apalagi jika dinikmati bersama sepiring siomay yang juga tak kalah mak….nyus-nya.

Mengenal Pemiliknya

Pemilik gerai ini adalah seorang wirausaha yang tangguh, yang pernah jatuh berkali-kali dalam merintis usaha, namun memiliki spirit yang luar biasa untuk tetap bangkit. Mang Dede (43 tahun), demikian saya memanggilnya, menceritakan bagaimana memulai usahanya tahun 1988, dengan mengawalinya sebagai pelayan di tempat kakeknya di Bandung. Tidak puas hanya sebagai pelayan saja, beberapa tahun kemudian, dia merantau ke Jakarta dengan mendirikan gerai es sakoteng di sekitar Blok M hanya bermodalkan tekad yang besar.

Mang Dede adalah sosok wirausaha yang mandiri

Ternyata banyak warga Jakarta, baik yang hanya sekedar lewat atau orang kantoran,   yang menyukai Es Sakoteng dan Siomay made in Mang Dede ini. Dalam waktu sekejap, dia telah memiliki pelanggan yang fanatik dan tentu saja uang mengalir deras ke kantongnya. Selama bertahun-tahun merantau di Jakarta, Mang Dede menikmati berbagai kenikmatan hidup yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Karena ketidaksiapan mental dan  cara pengelolaan keuangan yang tidak baik, perlahan tapi pasti berbagai kesulitan mulai menggerogoti usahanya yang berujung pada kerugian yang menguras isi kantongnya.

Sambil berlinang air mata mengingat masa lalunya yang diaanggap sebagai masa jahiliyah, dia menceritakan bagaimana usahanya bangkrut karena kesombongan sendiri yang berujung pada pendzoliman (dikhianati) orang dekatnya, ditipu berjuta-juta dan bahkan harus berurusan dengan penegak hukum.  Singkat cerita, setelah bertahun-tahun merantau di Jakarta yang tersisa kemudian hanya baju dan celana yang melekat di badan.

Apa yang membuat Mang Dede kemudian bangkit lagi semangat usahanya ? Bayang-bayang anak istri yang makan satu piring, ditambah garam dan sepotong kerupuk lah yang membangkitkan semangatnya dan  menjadikan  masa lalu sebagai cermin yang tidak boleh terulang lagi.

Kerja keras, ketekunan,  dan senang bersilaturahim adalah prinsip dasar yang selalu dipegang serta keyakinan pada Allah SWR pasti akan menebarkan rezeki kepada orang yang bersungguh-sungguh, menjadi pilar utama dalam hidupnya. Dengan modal spritual seperti itu Mang Dede mulai mengembangkan usaha sampai memiliki enam gerai Es Sakoteng dan Siomay yang tersebar di Kota Bekasi.

Inovasi dan pelayanan kepada pelanggan menjadi prioritas utama dalam bisnis Mang Dede

Dimulai tahun 2003, Mang Dede mencoba mendirikan gerai di Kemang Pratama sejalan dengan program pengembangan kemitraan Mini Market Indomaret. Sebelum di Indomaret, dia lama luntang lantung sekitar Ruko Kemang. Sering dia diusir oleh pemilik ruko atau saingan sesama pedagang kaki lima. Karena itu, dia tidak akan pernah melupakan jasa manajemen Indomaret yang telah memberikan peluang kepadanya untuk mengembangkan usahanya sampai saat ini.

Mang Dede tidak hanya puas dengan satu gerai di Indomaret Kemang Pratama saja. Dia menerima tantangan manajemen Indomaret untuk mengembangkan usahanya di Indomaret Nusa Indah Pekayon, Pondok Cipta Bintara, Indomaret Hermina Kampung Duaratus, Ruko Komplek Cikarang Baru. Kepercayaan manajemen Indomaret dipelihara terus dan disamping itu, kunci lainnya adalah selalu berkomunikasi dan saling bersilaturahim dengan sesama pedagang yang ada di sekitar gerainya. Ini lah kunci untuk mengeliminir konflik diantara sesama pedagang.

Akhir tahun 2009, menjadi momentum besar bagi Mang Dede untuk melompat ke usaha yang lebih besar. Dia memberanikan diri membeli sebuah petak ruko dengan cara mencicil di komplek Legenda Zamrud. Di tempat yang menjadi miliknya sendiri, dia mulai menggabungkan es sakoteng dan siomay dengan makanan Chinase Food. Mang Dede mengatakan sebagai momentum ”kemandirian”. Kalau mau jadi pengusaha besar harus berani mengambil keputusan besar juga, begitulah kira-kira pikiran Mang Dede.

Bagi saya, Mang Dede termasuk orang yang hebat, tanpa memiliki pendidikan yang tinggi dan modal keberanian untuk bertanya kepada yang dianggap ahli, dia banyak melakukan inovasi dalam usahanya. Salah satunya adalah yang sering dikemukakan ahli marketing yaitu delivery service yang tepat waktu. Kontrol terhadap pelayanan sering dia lakukan, baik jarak dekat maupun dari kejauhan. Komplain dari pelanggan menjadi masukan yang sangat berharga bagi dirinya.

Begitu pula dengan para karyawannya yang saat ini hampir mencapai 25 orang lebih, dia lebih senang menerapkan sistem kekeluargaan. Komunikasi personal sering dia lakukan di kala senggang. Untuk mempererat hubungan sesama karyawan, Mang Dede menyelenggarakan kegiatan bersama seperti futsal dan pengajian. Dengan kegiatan sosial seperti ini, hubungan antara majikan dan karyawan berlangsung secara cair.

Pelajaran Berharga

Apa yang bisa dipelajari dari Mang Dede ? Ternyata perubahan itu akan terjadi kalau kita serius dan berani untuk bertindak. Masa lalu menjadi cermin yang harus dibawa kemanapun perubahan itu terjadi. Selain itu, kesabaran dan senantiasa istiqomah dengan cita-cita awal serta berdoa kepada Yang Maha Kuasa menjadi pilar yang kuat dalam menghadapi semua rintangan yang muncul. Insya allah, cita-cita yang baik akan berbuah baik pula.

Satu hal yang tidak dilupakan oleh Mang Dede adalah dukungan keluarga. Bercermin dari masa lalu, Mang Dede selalu menyempatkan waktu bersama keluarganya, walau pun hanya sekedar ngobrol. Pendidikan bagi anak-anaknya menjadi prioritas utama dengan memberikan ruang dialogis antara orang tua dan anak.

Pendekatan dan lingkungan yang nyaman dalam keluarga telah membuahkan hasil, di mana anak yang paling besar menunjukkan prestasi sekolah yang luar biasa bagi ukuran Mang Dede. Saat ini, anaknya yang pertama telah diterima di sebuah sekolah bergengsi di STT Telkom Bandung tanpa prosedur berbelit-belit dan biaya tinggi. Sekolah ini tidak sembarangan menerima calon mahasiswa. Hanya mahasiswa yang memiliki prestasi akademik tinggi yang bisa diterima di sekolah ini. Inilah puncak kebanggaan Mang Dede yang mampu mengantar anaknya menggapai jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Itu lah pencapaian terbesar dalam hidup Mang Dede, kalau melihat kehidupan masa lalu yang penuh dengan kegetiran dan kesombongan dunia, dia tidak menyangka mampu menggapainya seperti sekarang ini. Masa lalu menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam menata masa depan usahanya dan keluarga yang dicintainya. Tentu saja, syukur dan doa kepada Allah SWT senantiasa menjadi modal spirit setiap hari.

Penasaran dengan Es Sakoteng dan Siomay Mang Dede ? Datang saja ke Ruko Kemang Pratama atau gerai lainnya yang dekat dengan tempat tinggal anda. Insya Allah dijamin kenyang dan ueeenak !!!!

Mulai buka jam 10 sampai malam hari, gerai es sakoteng dan siomay ini tidak pernah sepi dari pelanggan. Kalau tidak ingin kehabisan, sepat bergegas merasakan mak...nyus-nya es sakoteng dan siomay Mang Dede

2 Comments leave one →
  1. irfan permalink
    February 8, 2010 3:30 am

    Ini siomay mang usep bukanya?…khan mang usep dari Majalengka?..
    Anyway..Sukses Mang Dede..Bangga punya contoh nyata pekerja keras bangsa sendiri..

    Abdi tinggal di Kemang Ifi Graha euy..langganan di situ sih..

    hatur nuhun kang..

  2. October 11, 2011 11:29 am

    Reportasenya mantap P’ Harun… Salam kenal dari bandung… mau ngasi info juga nih siapa tahu banyak rekan-rekan lainnya yang ingin mencoba minuman sakoteng/ sekoteng tapi jauh dari tempat yang P’ Harun referensikan sekarang ada cara yang lebih mudah… cukup akses internet, lalu kunjungi hanjuang.com. Kami menyediakan sakoteng dan aneka minuman tradisional seperti bandrek – bajigur… pokok-nya khas priangan lah…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: