Skip to content

Wow…Bekasi punya 1,9 T

January 9, 2010

Semua keluhan masyarakat silahkan disampaikan di sini. Gratis Kok !

Rutinas hari jumat adalah setiap jam 6 pagi saya sudah nongkrong di Radio Dakta. Menjadi penyiar adalah sebuah sejarah yang terulang, begitulah saya sering mengatakan kepada para kolega yang kebingungan dengan salah satu aktivitas ini. Ketika masa-masa  mahasiswa,  saya sering mengisi dan menjadi host sebuah stasiun radio yang dikelola oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unpad.

Stasiun radio ini sangat unik karena mulai mengudara jam 2 pagi. Sangat tidak mungkin bagi kami siaran siang hari, karena sibuk kuliah (alah sok rajin, paling-paling kalau ke kampus lebih banyak nongkrong di warung kopi dari pada kuliah) dan banyaknya intel yang memonitor gerakan mahasiswa saat itu (nah..kalau yang ini benar). Maklum, intel juga manusia yang suka tidur juga begitu jam menunjukkan angka 12 malam, sehingga aman bagi kami berselancar di udara dengan bebas setelah jam tidur lewat.

Sebenarnya, dari lubuk hati yang paling dalam, kami juga seneng  kalau ditemenin intel begadang sampai pagi. Coba bayangkan kalau lagi enak-enaknya diskusi yang sedang hot membahas masa depan Indonesia, tiba-tiba datang kuntilanak dan jin iprit, bisa-bisa bubar diskusi tersebut karena banyak pesertanya yang lari blingsatan. Konon, mahluk-mahluk halus ini sangat takut sama intel. Karena itu, kami sangat senang kalau malam ditungguin bapak-bapak intel, dijamin aman dari gangguan mahluk halus.

Walau pun mulai jam 2 pagi, peminatnya ternyata sangat banyak, apalagi isi siarannya sering melawan mainstream yang diberlakukan saat itu. Pendengar setia itu sebagian besar dari kalangan mahasiswa yang doyan begadang atau mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas dosen.

Biar gak banyak basa-basi, saya kembali ke awal tulisan. Mengapa siaran Hari Jumat, tanggal 8 Januari 2010 begitu spesial ? Karena tamunya juga sangat spesial. Pertama, Sutriyono, Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi. Biasa saya panggil Mas Tris. Tapi yang ini beda dengan ”Mas Tris”, panggilan para kompasianer untuk Soetrisno Bahir dari PAN. Tamu lainnya adalah Pa Dadang, Kepala Bapeda Kota Bekasi. Saya memanggilnya Kang Dadang, karena satu kampung, sami-sami ti Pasundan.

Jangan lupa, perkampungan kumuh masih banyak di Bekasi, seperti yang ada di belakang Pasar Proyek. Sebentar lagi mereka pun akan tergusur

Diskusi berlangsung interaktif dan semakin seru ketika telepon dan SMS pendengar yang selalu haus akan informasi memenuhi inbox meja operator. Respon pendengar variatif. Ada yang hanya sekedar bertanya, mengkritik dan menyarankan, bahkan ada yang tausyiah segala lengkap dengan doa agar karir Mas Tri dan Kang Dadang terus menanjak. Maksudnya jangan terus menerus menjadi wakil rakyat, sekali-kali jadi walikota,  apa salahnya ?

Dari kedua nara sumber ini saya banyak memperoleh informasi baru tentang Bekasi, terutama yang berkaitan dengan APBD 2010. Menurut Mas Tri, APBD Bekasi 2010 hampir Rp. 1,9 Trilyun.

WOW…..Uang sebesar itu digunakan untuk apa ya ? Kumat nih penyakit pengamatnya yang selalu pingin tahu aja urusan orang. Ini lah bedanya pengamat dengan pejabat publik. Kalau pejabat ngomong yang baik-baik dan selalu normatif, sedangkan pengamat selalu mengambil sisi yang agak miring.

Banyak sekali program besar dilaksanakan pada tahun ini. Kang Dadang merinci diantaranya pembuatan jalur busway yang akan memenuhi koridor Kalimalang sampai Kampung Melayu. Mantabzzz, kalau bisa direalisasikan tahun ini. Di samping itu, rencana pembangunan Kantor Pemkot setinggi 10 lantai. Nah…yang ini harus ekstra pengamanan. Jangan sampai kantor Pemkot menjadi arena favorit bunuh diri yang sekarang ini lagi trend di Jakarta dengan cara melompat dari gedung tinggi.

Selain proyek mercu suar, beberapa program pro rakyat juga mengalami peningkatan, seperti rencana pembangunan pusat kuliner Bekasi yang didesain untuk kalangan UKM. Begitu pula dana untuk pendidikan gratis 12 tahun dan kesehatan gratis bagi rakyat miskin. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Mengapa dana untuk 11 orang bisa mencapai Rp 10 M, sedangkan untuk rakyat miskin hanya di bawah 1 M ? Maksudnya untuk membiayai sepak bola jauh lebih besar ketimbang rakyat miskin. Yah…Sudah lah sepanjang ada manfaat bagi Bekasi, why not ? Saya sendiri suka sekali menonton bola yang dikejar-kejar 20 orang. Apalagi kalau nonton tim dari Indoensia, suka banyak yang aneh-aneh. Sambil nonton bola, kita juga sering disuguhkan pertandingan tinju massal yang melibatkan pemain, penonton bahkan tim manajemennya.

Begitu besar dana pembangunan yang akan di-gelontorkan tahun ini. Mas Tri, dalam kapasitasnya sebagai wakil rakyat pun berkomitmen untuk mengawasi pelaksanaannya. Bahkan beliau sudah menyiapkan setumpuk obat ”antangin”, agar tidak mudah masuk angin ketika berhadapan dengan Pa Wali dan jajarannya. Komitmen yang perlu mendapat dukungan dari publik. Mengapa ? Karena APBD adalah uang rakyat yang harus digunakan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat. Rakyat punya hak “preogatif” untuk mengontrol penggunaan dana publik. Tul’ gak ?

Tapi seorang teman berbisik kepada saya, bukankah Pa Wali, Pa Bupati dan juga Pa Wakil, Anggota DPRD, dan para birokrat, kalau ditanya, mereka ngakunya dari rakyat  juga. Maka wajar dong, kalau APBD dirancang  untuk mengakomodir kepentingan “rakyat”. Coba aja lihat di APBD, ada anggaran perjalanan, mobil dinas, komunikasi, rumah dan lain-lain. Itu semua digunakan untuk menunjang kegiatan dalam mengakomodir kepentingan rakyat. Yang gak ada hanya anggaran untuk ngeblog aja. 

“Ya, betul sekali”, kata saya. Tapi yang penting bagaimana proporsinya. Kalau lebih besar ketimbang kepentingan rakyat, ya sudah lah jangan terlalu dipikirkan. Gitu aja koq repot….demikian almarhum sering berkata-kata.

Yang jelas sebagai warga Bekasi umumnya, saya sangat menunggu-nunggu kekuatan magis sentuhan Pa Wali dan Pa Wakil beserta jajarannya, menyulap Bekasi yang amburadul seperti dua tahun yang lalu, menjadi kota yang nyaman, aman dan menyenangkan. Apa pun bentuk APBD-nya, yang penting rakyat happy dan semua kebutuhannya terpenuhi serta tidak berbau aroma korupsi. Karena rakyat bisa ngamuk. Tul, gak ? 

Salam BeBlog dari Kemang Pratama, 9/1/2010

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: