Skip to content

Ini Dia (Calon) Pemimpinku: AYU AZHARI

January 3, 2010

Sang Calon Wakil Bupati

SUATU hari, seorang teman memposting sebuah tulisan dari sebuah media on line yang memberitakan artis Ayu Azhari mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati (Wabup). WOW….itulah reaksi awal ketika membacanya. Selama ini, Ayu Azhari lebih banyak dikenal sebagai artis yang kontroversial di beberapa filmnya. Bahkan beberapa kawan sekantor menyimpan foto Ayu Azhari yang berani “membuka” dirinya dan tentu saja bajunya juga. Tidak sedikit gambarnya beredar di berbagai majalah dewasa dan dunia maya dengan pose yang “menantang” (entah itu asli atau rekayasa photoshop).

Ayu Azhari bukan lah artis yang pertama terjun di dunia politik. Sebelumnya sudah banyak artis yang menjadi anggota DPR, dan Kepala Daerah, seperti Ajie Masaid, Dede Yusuf, Qomar, Rano Karno, dll. Fenomena artis politisi ini mulai marak pada era Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Langsung dan Pemilihan anggota Legislatif 2009, sebagian ada yang berhasil, tapi tidak sedikit pula yang gagal.

Menurut pandangan saya yang a-politik, fenomena artis masuk gelanggang politik tidak  perlu diperdebatkan panjang lebar. Artis adalah sama saja dengan warga negara lainnya yang memiliki hak sebagaimana dijamin oleh UUD. Mereka mempunyai hak yang sama untuk memilih dan juga dipilih sebagai pemimpin.

Demokrasi mengajarkan siapapun yang terpilih dengan suara mayoritas berhak untuk menjadi pemimpin. Namun, perlu juga diingat bahwa kadangkala demokrasi menyimpan ironi yang bertolak belakang dengan kondisi ideal yang dicita-citakan. Ironi demokrasi, begitulah yang dikatakan Larry Diamond.

 Bukankah Hitler juga terpilih secara meyakinkan walaupun melalui pemilu yang penuh dengan intriks dan intimidasi. Begitu pula Pa Harto, terpilih sebagai presiden dengan mengantongi suara mutlak anggota MPR yang dihasilkan melalui sebuah proses pemilu yang dinilai kalangan akademisi cacat secara demokrasi. Ini lah yang sering dikatakan sebagai kesalahan elektoral. Sepanjang rakyat yang memilih dan menghendakinya, siapa pun tidak berhak untuk menghalangi atau menggugat pilihan rakyat. So what ?

Kembali ke Ayu Azhari. Keyakinan bahwa Ayu Azhari serius mencalonkan diri, baru yakin setelah sabtu pagi (26/12/2009) Metrotv menayangkan beritanya lengkap dengan formulir yang sudah ditandatangani. Tanggapan masyarakat pun beragam. Tapi, kalau disimak hampir sebagian besar menolak pencalonan Ayu Azhari.

Risiko artis terjun ke dunia politik adalah diremehkan dan dilecehkan, bahkan dicurigai sebagai alih profesi karena sudah tidak lagi laku sebagai artis. Mungkin, gambaran seperti ini diperoleh dari maraknya infotainment yang sering mengumbar kehidupan artis yang kawin cerai, terlibat narkoba, perselingkuhan dll. Mungkin saya terlalu generalis. Masih banyak artis yang memiliki kemampuan intelektual sangat memadai dan gaya hidup yang religius, katakanlah seperti Dedi Mizwar, Nurul Arifin, dan Dyah ”Oneng” Pitaloka. Jadi, mengapa harus menilai seseorang sebelum ia berbuat ?

Siapa tahu, ketika terpilih menjadi Wabup, Ayu Azhari mempunyai gagasan yang brilian tentang pembangunan Sukabumi yang lebih baik dari pada kader-kader partai. Tapi yang mengherankan, kenapa piktor (pikiran kotor) tidak bisa lepas dari maksud baik pencalonannya. Saya hanya membayangkan seandainya Ayu Azhari berkampanye di lapangan atau sedang pidato di Sidang Paripurna DPRD, sebagian besar mata (tentunya laki-laki), akan mempelototi tanpa berkedip. Seolah-olah ingin melepaskan semua yang melekat di badannya. Faktor positifnya, orang akan disiplin menghadiri suatu pertemuan, tidak ada lagi jam karet dan tidak akan meninggalkan ruangan sebelum selesai pidato.

Persoalan Ayu Azhari mencalonkan diri, saya berpendapat memang tidak perlu dipersoalkan. Pertanyaan kemudian adalah, apakah memang tidak ada lagi kader di partai yang memiliki kemampuan kepemimpinan yang lebih baik ? Tidak kah ini sebagai penanda bahwa partai telah gagal dalam membina kader-kadernya untuk menjadi pemimpin atau menjadi school of leadership  ? Salah seorang Ketua Partai beralasan bahwa partainya tidak ujug-ujug mengangkat artis menjadi kader yang dicalonkan sebagai wakil rakyat atau kepala daerah. Partai memiliki program politik yang jelas untuk membina kader-kadernya menjadi pemimpin yang tangguh. Apa iya ?

Dunia politik bukan lah panggung pertunjukkan yang glamour atau hanya sekedar pemilihan seperti idol-idolan yang lagi marak di berbagai televisi. Mencetak seseorang menjadi tukang semir saja (maaf, tidak bermaksud melecehkan suatu profesi tertentu) membutuhkan pelatihan dan pengalaman berhari-hari. Apalagi mencetak seorang pemimpin yang akan menjadi nahkoda bagi rakyat yang jumlahnya jutaan, bukan lah proses yang instant.

Siapa pun yang terlibat dalam dunia politik harus mampu menunjukkan komitmen yang tinggi dan berempati terhadap permasalahan yang dihadapi oleh rakyat. Calon-calon pemimpin yang berkomitmen hanya dapat diperoleh dari sebuah proses yang panjang, bukan hanya sekedar mengandalkan popularitas.

4 Comments leave one →
  1. January 3, 2010 6:35 am

    Memang masih jadi Pe-eR para partai politik mas.
    Kekurangan SDM yang dikenal khalayak ramai.

    Kita tunggu saja sambil berdoa, kecuali kalau kita memang orang politik, maka mari kita didik kader bangsa yang tahu politik dan anti korupsi.

    Salam

    • January 3, 2010 8:48 am

      setuju mas eko. mungkin melalui komunitas bloger pencerahan politik bisa dimulai
      saat ini saja partai sudah gagal dalam menjalankan fungsi-funngsinya. berbagai isu justru lebih banyak didorong oleh warga biasa tidak diinisiasi oleh partai. padahal partai seharusnya menjadi wadah bagi rekruitmen pemimpin

  2. January 5, 2010 3:03 am

    aku tak bisa membayangkan lima atau sepuluh tahun yg akan datang…… apakah anak-anak saya akan menjadi Nudis, Zionis, atau teroris????? jika rekrutmen kepemimpinan sangat penuh ketololan dan kedunguan. Mereka semua hanya memikirkan menang dan menang tanpa mau melihat proses, halal-haram, yg penting menang……Miris hati ini, campur kesal dan amarah.

  3. fatmini permalink
    April 25, 2010 12:34 pm

    Betul Bang,siapa tahu mbak Ayu punya ide brillian untuk membangun Sukabumi.Tapi,masih banyak putri-putri Indonesia lain yang lebih baik,apalagi putra-putranya.Bagi saya lelaki tetap harus jadi pemimpin selama mereka masih ada.Jadi,sudah seharusnyalah laki-laki itu selalu menempa diri sehingga dapat memimpin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: