Skip to content

Anggodo, Sang Pahlawan

January 3, 2010

Anggodo Sang JawaraMAKAN siang tanggal 9 desember 2009 adalah hari yang sangat berkesan bagi saya. Ketika jam 12 tiba,  bersamaan waktu dengan para aktivis anti korupsi yang berbondong-bondong ke lapangan Monas, kami pun bergerak. Namun, jalan yang ditempuh sungguh berbeda. Kami tidak ke Monas melainkan ke warung makan (Pimpinan  tidak mengijinkan kami keluar karena berpegang teguh pada info dari pa esbeye, bahwa hari itu akan terjadi kerusuhan).

Seperti hari-hari sebelumnya, makan siang menjadi ajang diskusi tentang isu terkini yang terjadi di jagat perpolitikan Indonesia. Tema diskusi hari itu sama dengan tema yang diusung oleh kawan-kawan aktivis di Monas, yaitu soal pemberantasan korupsi.

Perdebatan berdurasi satu jam ini, lebih seru dibandingkan acara di televisi yang selalu disela break commercial. Semua peserta makan siang bisa menjadi pembicara dan tidak ada moderator (atau admin…maaf ! sok usil) yang akan menghambat “hak berpendapat” yang dijamin oleh UUD 1945 itu.

Berbagai sumpah serapah berhamburan dari mulut peserta diskusi ketika bicara betapa bobroknya hukum dan korupsi yang ada di Indonesia. Semua nama yang diputar di Mahkamah Konstitusi menjadi menu pelengkap makan siang kali ini.

Di tengah hangatnya diskusi, tiba-tiba kawan di samping kanan berdiri, sebut saja namanya KOSIM, berteriak dengan lantang:

”Interupsi……….!” teriak Kosim sambil mengacungkan tangan.

Semua berpaling kaget mendengar teriakan tersebut. Namun, akhirnya mahfum ketika tahu Kosim yang berteriak. Konon, sejak kecil Kosim bercita-cita jadi anggota dewan, namun selalu gagal. Karena tidak punya modal uang yang cukup besar. Tapi kebiasaan mengeluarkan kata-kata ”interupsi” tidak pernah hilang, bahkan ketika rapat dengan dewan direksi sekalipun.

”Silahkan pak Kosim, kalau ada pendapat yang berbeda.” kata salah seorang kawan yang kelihatannya cukup bijak dan berpengalaman.

Semua sudah maklum dengan kebiasaan Kosim yang selalu mengeluarkan pendapat yang berbeda. Prinsipnya: Pokoknya berbeda.

”Analisis saudara-saudara ini dangkal sekali. Tidak berdasarkan fakta dan hanya ilusi. Dan yang paling parah, tidak berlandaskan pada perundang-undangan.” katanya.

”ah…kayak yang tahu undang-undang saja. Membedakan memo dengan peraturan saja gak bisa.” kata saya dalam hati.

”Apa alasan Bang Kosim mengatakan bahwa pendapat kami salah ?” tanya kawan yang duduk di ujung meja. Kelihatan sekali wajahnya kesal.

”Pendapat kalian ini sangat naif sekali. Dari tadi hanya mencaci maki Anggodo, polisi dan jaksa.” kata Kosim. ”Melihat kasus-kasus hukum itu harus dengan  hati nurani yang bersih.” lanjutnya.

”Waduh…..ngomong apa nih si Kosim, sampai bawa partai segala.” kata saya masih dalam hati.

”Orang yang anda caci maki itu justeru telah memberikan pencerahan dalam sistem hukum dan keadilan di negeri ini. Anggodo mestinya dinobatkan sebagai pahlawan yang telah berjasa membebaskan Bibit Candra dari kurungan.” kata Kosim dengan penuh keyakinan.

”Justeru Pa Kosim lah yang ngawur. ” sergah kawan saya yang lain. ”Dalam rekaman yang diputar di MK menunjukkan bagaimana Anggodo dengan seenaknya mengatur para petinggi penegak hukum untuk menjadikan Bibit Candra sebagai tersangka.”

”Susah memang diskusi dengan orang yang tidak paham hukum dan emosional.” kata Kosim. ”Coba anda bayangkan, seandainya Anggodo tidak ada. Mungkin Bibit Candra sampai sekarang masih dikurung. Bahkan mungkin sudah almarhum. ’tul gak ?”

Semua kawan yang bareng makan siang waktu itu mengangguk-anggukan kepala sebagai simbol memahami penjelasan Kosim. Padahal yang sebenarnya adalah agar si Kosim ini tidak lagi melanjutkan analisisnya yang awur-awuran. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, semakin ditentang maka akan semakin ngawur saja pandangannya.

Eh…….ternyata dugaan saya kali ini salah. Melihat kami semua diam, Kosim justeru semakin semangat menjelaskan peran Anggodo yang menurut dia sangat berjasa dalam penegakkan hukum di Indonesia.

”Angodo itu orang terpandang di negeri ini. Walaupun dia banyak mencatut nama-nama orang besar di negeri ini, toh….tidak pernah diperkarakan dan sampai sekarang masih terlihat luntang-lantung dengan bebas.  Bandingkan dengan Wakil Ketua DPR 2004-2009 dan pengacara kondang yang dikurung gara-gara pencemaran nama baik. Dia juga pintar dalam ilmu hukum. Kalau tidak, bagaimana mungkin para penegak hukum yang sudah hapal KUHP di luar kepala menerima saran-saran Anggodo. Saya yakin, ilmunya tidak jauh berbeda dengan Bang Buyung yang menjadi Ketua Tim 8. Ini info dari orang dalam, yang dicalonkan jadi ketua tim, awalnya justru Anggodo.” kata Kosim dengan penuh keyakinan. Sambil minum air, dia melanjutkan penjelasannya tentang Anggodo.

”Mestinya KPK dan para aktivis berterima kasih sama Anggodo. Gara-gara dia lah peringatan Hari Anti Korupsi berlangsung dengan meriah. Bahkan diperingati hampir di seluruh daerah. Bandingkan dengan tahun 2008 ketika Anggodo tidak banyak berperan. Satu hal lagi.” kata Kosim dengan  serius. ”sekarang ruang gerak markus di kepolisian, kejaksaan dan mungkin juga KPK sendiri semakin terbatas. Pemberantasan korupsi makin kenceng aja. Bahkan Pa esbeye sendiri menyatakan jihad melawan korupsi. Itu semua gara-gara Anggodo. Karena itu, kita semua perlu menaruh hormat dan apresiasi yang setinggi-tingginya sama Anggodo….hehehehehe.” dengan senyum kemenangan Kosim mengakhiri penjelasannya.

Kami semua terdiam membisu mendengar penjelasan yang super keblinger dari seorang Kosim. Tapi dalam hati, saya mengakui bahwa peran Anggodo memang menjadikan isu pemberantasan korupsi semakin gencar saja. Di akhir sesion makan siang, kami dibuat bahagia karena Kosim mentraktir kami semua, sebuah amal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Sebelum kaki melangkah meninggalkan meja makan, Kosim menitipkan pesan agar diskusi dilanjutkan besok  siang.

”Besok kita lanjutkan diskusi tentang Anggodo dengan tema yang lain. Saya punya ide bagaimana kalau kita berikan award kepada Anggodo yang telah berjasa dalam pemberantasan korupsi.” pinta Kosim dengan penuh harap.

Saya pun langsung mengambil langkah seribu. Saya gak mau jadi korban, mendengar analisis ngawur bin keblenger dari Kosim yang gagal menggapai cita-cita jadi anggota dewan. Sesampainya di kantor, saya masih teringat dengan kelakukan Kosim. Bukan penjelasan klenger-nya yang jadi pikiran. Tapi yang lebih mengkuatirkan: jangan-jangan para politisi itu mirip dengan kelakuan Kosim dalam membuat undang-undang alias suka ngawur. Buktinya, banyak undang-undang yang di­-yudicial review di Mahkamah Konstitusi.

Cape’ dech….

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: