Skip to content

Liku Anak Mencari Sekolah

January 2, 2010

Yang penting anak diberi ruang untuk eksplorasi

ANAK saya yang laki, saat ini masih  duduk di bangku Taman Kanak-kanak Kelas Nol Besar. Pertengahan tahun depan, dia akan memasuki tahapan baru menjadi siswa Sekolah Dasar (SD). Sejak sebulan yang lalu, saya dan istri mulai disibukkan mencari berbagai sekolah yang dianggap memiliki reputasi baik.  

Dari sekian banyak SD yang kami survey, hampir semuanya mensyaratkan kemampuan di bidang membaca, menulis dan berhitung (calistung). Memang ada beberapa SD yang tidak terlalu menekankan penguasaan calistung bagi anak kelas 1 sampai kelas 3. Hanya sayang, jaraknya sangat jauh dari rumah. Terpaksa kami delete dari daftar incaran.

Tentu saja, pilihan yang tersedia membuat kami kelabakan. Karena sejak awal kami mendaftarkan anak hanya ke TK yang memiliki konsep bermain yang tidak terlalu menekankan pada penguasaan akademik. Alasannya sederhana, bermain adalah dunianya anak-anak. Jangan  sampai anak kehilangan masa indah gara-gara “ambisi intelektual” orang tuanya sendiri.

Bertolak belakang dengan prinsip awal. Akhirnya kami putuskan meng-geber anak untuk belajar calistung di rumah. Baru berjalan tiga hari, istri saya sudah putus asa karena anakku lebih banyak bermain-main dari pada belajar. Istri mulai agak keras terhadap anak…eh….ternyata anak juga semakin keras menolak. Bahkan suatu hari anak saya pernah bilang bahwa kami telah melanggar HAM (kami terkaget-kaget sekaligus geli mendengar kata-katanya. Dari mana dia tahu kata tersebut ?)

Stresnya istri ternyata berdampak sistemik (hehehehe….ketularan Sri Mulyani). Stabilitas rumah tangga mulai tergoncang. Kami  harus mengambil tindakan segera agar stabilitas rumah tetap terjaga. Kami datangi tempat kursus membaca. Harapannya, di bawah bimbingan profesional, anak cepat menguasai calistung dengan baik dan enam bulan kemudian sudah siap siaga menghadapi  ”ujian masuk” SD.

Masa tenang kami ternyata hanya bertahan satu minggu. Suatu hari, guru kursus datang ke rumah sambil membawa bendera putih tanda ”menyerah”. Dengan diselengi kata-kata hiburan,  ”anak bapak dan ibu termasuk anak yang sangat cerdas. Namun, anaknya masih senang bermain-main. Kalau sudah siap belajar, kami akan dengan senang hati menerimanya kembali”, katanya.

Penjelasan ibu guru ini menyadarkan kepada kami bahwa mendidik anak sejak dini dengan berbagai kursus atau paket-paket kepintaran, yang kadangkala menguras kantung orang tua, bukan pilihan satu-satunya. Pendidikan sejati bagi anak adalah bagaimana lingkungan rumah bisa secara terus menerus mendorong minat dan pengetahuan anak untuk belajar tentang segala hal. Para pakar pendidikan menyarankan agar anak sebaiknya mengenali tumbuh kembang yang terjadi di lingkungan sekitarnya secara berkelangsungan dalam hidupnya.

Kami sedikit terhibur ketika membaca sebuah cerita tentang Einstein dan tokoh-tokoh dunia lainnya. ketika kecil, mereka adalah anak-anak biasa yang kadangkala dikenal sebagai murid yang tidak memiliki prestasi luar biasa. Bahkan Einstein yang terkenal otaknya encer sekalipun, mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD.  Jadi, mengapa harus ngotot menciptakan paket-paket kepintaran kepada anak secara dini ?

Mungkin jawabannya adalah krisis ketidak-percayaan diri yang melanda kami sebagai orang tua. Melihat iklan TV yang menggambarkan anak super cerdas, mendengar anak tetangga sudah bisa ini itu dll, kadangkala membuat kepercayaan diri sebagai orang tua menjadi goyah. Muncul lah ambisi untuk mencetak anak menjadi ”super kid” tanpa memperhitungkan minat anak sendiri. Anak dipaksa belajar di berbagai kursus mulai yang dapat membuat otak cerdas dan pintar berhitung, fasih berbahasa Inggris hingga kursus menari, musik dan berenang.

Ini lah yang mungkin disebut sebagai gejala ketidak-patutan dalam mendidik, yang gejalanya mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika – membaca tulisan Dewi Utama F tentang Anak-anak Karbitan, 2006 –. Saat orangtua dan para profesional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya.

Kami menyadari, sebenarnya pesan yang ingin disampaikan adalah jangan sampai tanggungjawab mendidik diserahkan sepenuhnya kepada orang lain. Orang tua sebaiknya terlibat secara intens dalam mendorong dan  menumbuhkan ruang bagi anak untuk berkembang secara alamiah. Selama ini kami berpikir bahwa menyerahkan anak kepada lembaga pendidikan dan pengasuh sudah cukup memberikan modal dasar bagi masa depannya. Ternyata anak juga punya keinginan sendiri, yang seringkali luput dari perhatian kita sebagai orang tua.

Anak saya yang ”bandel” telah mengajarkan kepada kami tentang makna kebersamaan. Saya pikir, selama ini kami adalah orang tua yang bertanggung jawab. Setiap pagi berangkat kerja dan pulang malam, sibuk mencari nafkah agar anak-anak terjamin kehidupannya.  Ternyata itu belum cukup. Keterlibatan secara emosional dengan kasih sayang dan kesabaran adalah conditio sine qua non yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak (pake istilah asing biar kelihatan lebih intelek…..hehehehehe).

Mengingat kondisi pendidikan yang tidak membebaskan seperti saat ini, saya teringat masa-masa kecil di kampung. Saat itu, saya dan kawan-kawan bebas bermain tanpa dibebani berbagai tuntutan akademik. Tidak ada yang namanya kursus-kursusan. Banyak pelajaran justru diperoleh di ladang-ladang sawah, kebun, sungai dan binatang-binatang peliharaan. Semuanya gratis tanpa perlu bayar. Beda dengan anak-anak kota sekarang ini, untuk menikmati petualangan seperti itu orang tua harus merogoh kocek dalam-dalam.

Rasa-rasanya, orang tua pun tidak banyak memberikan target-target ambisius. Yang penting setiap ba’da maghrib anak-anak berkumpul belajar ngaji sampai menjelang sholat Isya. Tidak ada target anak harus menguasai calistung, apalagi fasih berbahasa Inggris. Para orang tua di desa kami akan merasa sangat malu kalau anaknya belum bisa ngaji. Orang tua akan merasa tenang dan lega melepas anaknya belajar ke kota besar, kalau sudah memberikan modal pelajaran agama. Itu sudah sangat cukup bagi anak kampung seperti saya !

Kehidupan masa kecil itu lah yang menginspirasi kami dalam mendidik anak dengan memberikan kebebasan dalam bermain. Ternyata,  tuntutan kota besar tidak serta merta memberikan ruang yang cukup bagi anak untuk menikmati dunianya. Sejak dini, anak sudah diberikan banyak target layaknya mesin pabrik yang di-setting untuk mencapai target produksi tertentu.

Yang saya kuatirkan adalah generasi mendatang tidak lebih humanis dibandingkan saat ini. Mudah-mudahan kekuatiran itu hanya sekedar ilusi saja, bukan menjadi sebuah fakta gambaran  masyarakat kita di masa depan.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: