Skip to content

Anak Jalanan dan Adipura 2010

November 20, 2009

Sejak dilantik sebagai Walikota Bekasi, sekitar satu tahun yang lalu, Mochtar Mohamad menyimpan ambisi besar meraih Adipura 2010. Ambisi ini tidak main-main, setiap hari sabtu, seluruh karyawan Pemkot dikerahkan untuk bersih-bersih berbagai sudut kota. Hasilnya sungguh luar biasa, Bekasi yang dua tahun lalu dikenal sebagai kota terkotor, kini memiliki wajah baru yang lebih enak dilihat. Beberapa sudut kota, mulai terlihat enak untuk dipandang. Tidak lagi “sareukseuk” kalau kata orang sunda mah.

 

 Namun sayang sekali, gerakan walikota ini tidak banyak diikuti oleh masyarakat untuk ikut serta melakukan gerakan kebersihan bersama. Selama ini terkesan, ambisi meraih Adipura  2010 seolah-olah hanya dimiliki Pak Walikota dan jajaran pemerintahnya. Betul kah masyarakat Kota Bekasi sama sekali tidak peduli dengan Adipura dan Kebersihan ? Tentunya tidak. Cobalah tengok sekitar perempatan Unisma Carefour. Anak-anak jalanan yang tergabung dalam Kelompok Pengamen Jalanan (KPJ) Korwil Unisma Carefour, begitulah mereka menamakan dirinya, berjibaku memerangi sampah dengan caranya sendiri. Tidak kah tindakan mereka menjadi contoh bagi masyarakat lainnya ?

Bang Min, kordinator KPJ Korwil Unisma Carefour, mengatakan bahwa selama ini mereka sering dicap sebagai noda yang mengganggu keindahan kota, karena keberadaannya di jalanan. Bahkan sejak dicanangkannya Adipura, kerap anggotanya menjadi obyek “pembersihan” aparat pemkot. Lelah dicap sebagai “biang” kesemrawutan kota dan dikejar-kejar aparat, mereka pun menekadkan diri berbuat yang terbaik  untuk pembangunan kota dengan cara mereka sendiri.

Salah satu upaya itu adalah mewajibkan anggota KPJ membuang sampah pada tempatnya. Bahkan mereka dengan “gagah berani” menegur dan sopir dan penumpang  yang ketahuan membuang sampah tidak pada tempatnya. Dari mana mereka mendapatkan tong sampah ? Dananya berasal dari kantong mereka sendiri. Mereka enggan mencari-cari penyumbang dan mengedarkan proposal.  Mereka kumpulkan uang dari setiap anggota sebesar Rp 2.000 dan tekumpulah uang sebesar Rp. 80.000 dalam waktu dua hari, kemudian mereka belikan 2 tong bekas. Uang sebesar 2.000 kecil bagi kita. Uang sebesar itu adalah uang parkir mobil ketika mau masuk ke mall. Tapi bagi mereka, itu besar sekali. Karena dengan uang 2.000 bisa untuk menyambung hidup selama satu hari. Pengorbanan yang sangat luar biasa.

 Apakah dengan cara ini mereka kemudian ”dilirik” oleh pemerintah atau kelompok masyarakat lainnya ? Ternyata tidak sama sekali. Menurut pengakuan Bang Min, tidak pernah pemerintah mengajak atau datang ke tempat mereka, setidaknya untuk bincang-bincang bagaimana mendayakan anak-anak jalanan untuk ikut dalam program kebersihan kota. Mereka tidak peduli, ada atau tidaknya perhatian. Yang terpenting, mereka dapat berbuat baik, walaupun hanya sekali dalam seumur hidup.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: