Skip to content

Arah Politik “Drama Anggodo”

November 9, 2009
tags:

Sudah hampir satu bulan lebih “pemakjulan” Bibit Candra (BC) menghiasi berbagai media massa. Kasus BC menjadi headline dan semuanya hampir seragam: Stop Kriminalisasi Kasus BC.
Kasus ini semakin mencapai puncaknya ketika diperdengarkan rekaman konspirasi yang didalangi oleng seorang yang bernama Anggodo dengan sangat jelas. Para pendekar hukum yang hadir di MK dan rakyat yang melihat dari TV terkejut mendengarkan bagaimana seorang Anggodo begitu digjaya mengatur orang-orang “besar” yang ada di negeri ini. Seandainya ada pengusaha yang kreatif, mungkin rekaman ini akan menjadi rekor penjualan terbanyak di Indonesia.
Berbagai reaksi berbeda bermunculan ke ranah publik setelah mendengar rekaman yang sangat menakjubkan ini. Pihak-pihak yang terkena dengan sigap melakukan upaya pembelaan diri. Puncaknya adalah ketika Rapat Dengar Pendapat RDP), 6 November 2009, dengan Komisi III menjadi ajang pembersihan dosa pihak kepolisian yang seolah-olah mendapat restu dari para anggota dewan yang terhormat. Sehingga tidak salah kalau banyak pengamat mengkritik habis RDP sebagai keberhasilan koalisi yang dibangun pasca Pilpres.
Reaksi yang berbeda justru dipertontonkan oleh rakyat dengan melakukan penggalangan moral melawan komprador bangsa yang bernama koruptor. Puncaknya adalah demo di Bundaran HI, 8 November 2009. Demo ini menjadi simbol perlawanan rakyat yang kalau tidak disikapi dengan bijak oleh pemerintah akan berubah menjadi reformasi jilid II. Ketua MK, berkali-kali mengingatkan: “Jangan melawan arus kekuatan rakyat”.
Bagaimana para penguasa negeri ini menyikapi situasi kekinian kasus BC ? Saya pikir tidak ada sebuah reaksi yang sangat cerdas dan memihak pada suasana bathin rakyat yang mandambakan keadilan. Reaksi ini setidaknya tercermin dari sikap SBY sendiri. SBY begitu sigap ketika ada orang yang mencatut namanya dan keluarganya sendiri langsung melapor ke polisi, tapi banyak orang yang terheran-heran mengapa SBY tidak segera melapor dan diam saja ketika namanya dicatut dalam rekaman Anggodo. Namanya begitu terang disebut sebagai RI 1. SBY pernah memperkarakan salah seorang wakil DPR periode 2004-2009 karena dianggap memfitnah, walaupun akhirnya diakhiri dengan cipika-cipiki. Karena itu, banyak orang terheran-heran dan seolah diam saja ketika namanya dicatut dalam rekaman tersebut.
Bangun lah Bapak Presiden, begitu kata Eep, jadilah pemimpin yang sejati dan berdiri bersama rakyat memberantas korupsi. Jangan lah para penguasa negeri ini diam mematung dan sibuk menjaga image. Karena saya sangat kuatir, potensi konflik antara rakyat dengan pemimpinnya menjadikan Indonesia senantiasa berada pada pusaran transisi demokrasi yang penuh dengan gejolak. Ongkos sosial yang ditanggung rakyat akan semakin besar.
BANGUN LAH……..

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: